Kamis, 20 Agustus 2009

Membaca Bulan Tanpa Air Jernih…….


Print E-mail

Artikel Apresiasi – Balipost Minggu, 26 April 2009.

Kekuatan Magnetik Bulan Mempengaruhi Air di Bumi

Taruhlah seribu tempayan berisi air jernih di bawah sinar bulan. Maka sebanyak jumlah tempayan itulah bayangan bulan yang nampak. Tapi kalau menoleh ke atas, hanya ada satu bulan bersinar.

Begitulah salah satu metafora yang sering dipergunakan dalam Sastra Kawi. Maksudnya, barangkali, orang yang pikiran dan hatinya jernih, sikapnya tenang, dan lahir bathin suci, sekujur dirinya akan memancarkan cahaya lembut seperti bulan. Pada seribu orang suci seperti itu akan nampak seribu bulan.

Ratusan mungkin banyaknya metafora yang dibuat orang tentang bulan. Karena bulan adalah satu dari beberapa pusat perhatian manusia bumi. Di antara ratusan metafora yang ada, saya melihat ada dua gagasan umum yang bertentangan tapi berdampingan: bulan itu cantik dan bulan itu seram.

Mereka yang melihat bulan itu cantik menghubungkannya dengan gagasan tentang keindahan, terutama keindahan cinta asmara. Bulan pun dijadikan perlambang perasaan asmara itu. Mereka sebut bulan itu Dewi Ratih, Indu, dan berbagai sebutan lain dalam bahasa berbeda. Dalam banyak karya sastra dilukiskan insan yang sedang dirundung asmara akan diaduk-aduk perasaannya oleh perasaan rindu pada kekasih dan seperti disedot oleh kekuatan sinar bulan lantas mereka memandang bulan lama-lama. Tak cukup memandang, mereka juga membisikkan pada bulan tentang rahasia hatinya yang paling dalam.

Entah karena apa, banyak pengarang yang berhasil melukiskan hal-hal seperti itu. Banyak pembaca ternyata senang membacanya. Hanya sedikit kritikus yang mengatakan bahwa lukisan itu hanyalah bentuk lain dan kecengengan alias sentimentalitas berlebihan. Tapi biarlah. Yang jelas, banyak orang sepakat bahwa bulan itu mewakili gagasan kecantikan dan keindahan.

Tapi bahwa bulan itu mewakili gagasan tentang keseraman ternyata juga banyak pemeluknya. Misalnya, cerita horor tentang Drakula dihubungkan dengan bulan pernama. Srigala malam yang melolong-lolong melihat roh-roh dan makhluk halus juga dihubungkan dengan bulan. Cerita manusia harimau jadi-jadian, dan beberapa wujud jadi-jadian lainnya, selalu dihubungkan dengan bulan, bahwa bulan purnama yang bersinar terang dan sejuk, indah dan menenteramkan mata dan hati.

Sebagai wakil dari gagasan keseraman, dalam tradisi kita bulan disebut Soma, sebuah kata yang juga berarti hari Senin, sehari setelah hari Redite (Minggu), yaitu nama lain untuk matahari. Putera Soma yang telah paripurna mempelajari ajaran Tantra Bhairawa disebut Sutasoma. Putera Bulan ini menjadi tokoh utama dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata bhairawa berarti ‘yang seram’, ‘yang dahsyat‘ yang menakutkan ‘yang gelap dan hitam’.

Gelap dan hitam adalah warna malam. Bulan adalah ratu penguasa malam. Kekuatan magnetik bulan mempengaruhi air yang ada di bumi. Air pun disimbulkan hitam dalam upakara dan upacara. Air adalah malam. Sementara tanah yang disebut lemah dihubungkan dengan siang. Dari kata lemah memang berarti siang hari.

Bulan memiliki hubungan dengan Kala. Ia disebut Sasih, yang juga berarti musim. Keempat musim yang ada di bumi adalah bagian dari Prajapati yang dalam banyak sumber tertulis diidentikkan dengan tahun. Prajapati berhubungan langsung dengan Durgha yang memberi penugasan pada Kala di dunia.

Hubungan bulan dengan Kala dapat digambarkan sebagai pertautan dalam konflik. Bulan memiliki kemampuan menawar kekuatan Kala. Dalam Kakawin Sumanasantaka misalnya disebutkan sungai atau air mistis yang bersumber dari bulan disebut Narmada. Air ini diyakini memiliki kekuatan tawar dengan Kala. Air inilah yang kemudian oleh banyak orang disebut air awet muda.

Karena bulan punya kekuatan yang menandingi Kala, maka ia menjadi incaran Kala, yaitu Kalarahu. Dalam mitologi dijelaskan ketika Kalarahu berhasil mencaplok bulan, dan sebelum ia herhasil menelannya karena lehernya dipanah, maka meneteslah air dan bulan dan jatuh ke bumi. Banyak orang percaya air yang menetes itu adalah amerta, air yang membuat peminumnya tidak akan “mati-mati’, alias melampaui batas hukum Kala. Kuat asumsi bahwa amerta inilah yang disebut Narmada yang sekarang diyakini walau tidak membuat peminumnya akan hidup terus, paling tidak akan menunda kematian alias awet muda.
Dan hubungannya dengan Bhairawa, Kala, dan Durgha, maka bulan kemudian sering dihubungkan dengan paham yang berkonotasi hitam, kin. Bulan pun disebut Dyah Sasangka yang cantik dan sekaligus seram.

Gagasan bulan sebagai yang cantik dan sekaligus seram identik dengan gagasan orang tentang kuburan yang disebut Setra Gandamayu (tempat berbau harum). Kuburan adalah tempat mayat dengan konotasi ketidaksucian alias leteh. Tapi secara mistis tempat mayat itu dipandang menyebarkan bau harum. Pada kesempatan lain kita akan belajar membaca buku besar bernama Kuburan. •IBM Dharma Palguna.



yang lainnya kelik disini /www.parisada.org

Mantap dalam Kesendirian


Print E-mail

NusaBali – Rabu, 13 Mei 2009.

Oleh : I Gede Suwantana*

Aho janasamuho’pi na dvaitam pasyato mama,
Aranyamiva sambrtam kva ratim karavânyaham,
(Astavakra Samhita, II. 21.)

Oh, Aku tidak menemukan adanya dualitas. Meskipun di dalam keramaian manusia, semuanya telah menjadi seperti di Hutan rimba. Untuk apa harus Aku mengikat diri sendiri?

TELAH menjadi seperti di hutan rimba artinya bahwa kita merasa mutlak sendiri. Ke mana pun kita pergi, keheningan diri tidak pernah terganggu. Keributan, kekacauan, dan keguncangan duniawi tidak mempengaruhi kesendirian, keheningan kita.

Bagaimana mungkin ada gangguan, sebab yang kita lihat hanya kesatuan di mana-mana. Kita merasa terganggu karena ada sesuatu di luar diri kita yang mengganggu. Gangguan ada karena kita ada dalam dualitas, ada diri yang terganggu dan ada sesuatu lain yang mengganggu. Tetapi jika yang ada hanya satu, jika hanya Aku saja yang eksis, maka mustahil
datangnya gangguan, dan apa atau dan siapa gangguan itu datang?

Bagi orang yang telah mencapai Pengetahuan-Diri, yang telah berada dalam Kesadaran Ilahi, maka, rasa kesatuan ini telah menjadi nature-nya. Ketika dualitas telah dapat kita lalui, maka panas-dinginnya kehidupan tidak akan mempengaruhi kita lagi. Panas dingin itu telah lenyap bersama dualitas itu. Tidak ada orang yang mampu mengganggu kita lagi, sebab mereka yang ada di luar kita sesungguhnya bukan berbeda dari kita, kita merasa mereka adalah bagian dari kita sendiri. Emosi kita juga akan stabil, sebab keterikatan akan sesuatu tidak ada lagi. Sesuatu yang di luar telah tiada atau ia ada tetapi ilusi, tidak nyata, hanya bayangan. Kita tidak mungkin marah, sebab untuk marah kita memerlukan objek untuk dimarahi. Saat kita merasa kesatuan, segala sesuatunya hanya satu, hanya Sang Diri eksis, maka marah tidak akan mungkin muncul.

Lalu apakah dengan kita telah mencapai Pengetahuan Diri ini, kita tidak memiliki marah lagi, kita tidak memiliki emosi lagi? Karena kita telah mantap dalam kesendirian, tidak terganggu dengan keramaian, apakah berarti kita tidak perlu berinteraksi sosial, karena mereka sudah tidak bisa menyentuh nasa kita lagi? Alangkah kacaunya hidup ini jika orang hanya sibuk dengan kesendiriennya, tanpa peduli dengan orang lain?

Bukan demikian maksud pernyataan ini. Pencapaian akan Pengetahuan-Diri bukan berarti menghilangkan kesempurnaannya. Rasa marah, cinta, atau bentuk-bentuk emosi lainnya, demikian juga keinginan kita untuk tetap berinteraksi sosial, rasa kebersamaan adalah pengisi sel-sel kelengkapan alam semesta. Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki fungsi masing-masing yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga proses kehidupan bisa berjalan dengan baik. Alam semesta ini berkembang dengan sempurna. Pencapaian akan Pengetahuan Diri tidak menghilangkan peran salah satu atau beberapa fungsi dari sistem ini. Justeru ketika kita mencoba menghilangkan salah satunya atau beberapa bagiannya, sistem ini tidak dapat berjalan dengan maksimal.

Jadi di sini, rasa marah tetap berada dalam kesempurnaannya dan kemuliaannya. Marah juga ada dalam diri orang yang telah mencapai Kesadaran Tertinggi, tetapi berbeda dengan kemarahan yang dimiliki orang biasa. Bagi orang yang telah tercerahi, marah yang ditampilkannya hanya sebuah lakon, hanya drama, sedangkan marah bagi orang
kebanyakan, betul-betul membelenggunya. Dia tidak dapat membedakan antara kemarahan den dirinya. Dia benar-benar terindentifikasi dengan kemarahan itu. Jadi bagi mereka yang telah mencapai Pengetahuan Diri ini tidak pernah terpengaruh dengan apa pun yang terjadi di luar dirinya sebab dualitas telah lenyap baginya, objek yang mempengaruhi dirinya telah tiada. Dan apa yang terjadi hanyalah sebuah Drama yang mesti dilakonkan. Sedangkan orang kebanyakan, terikat dengan kemarahan itu. Mereka jatuh oleh kemarahan itu. Mereka terindentifikasi oleh kemarahan itu. Kemarahan adalah identitasnya. Mereka tidak mengerti bahwa semuanya hanyalah lakon.

Demikian, kebenaran tidak akan berubah, dan tidak ada yang mesti diubah untuk berada dalam capaian Pengetahuan-Diri. Saat kita menyadari semua itu, maka kita mengenti semuanya hanyalah drama. Dan ketika kita mengerti bahwa hidup hanya drama, maka kita akan mampu merasakan kesatuan itu. Kita telah mantap berada dalam kesendirian. Tetapi, bagi mereka yang tidak mengerti, maka yang terjadi adalah kebalikannya, selamanya terbelenggu oeh dualitas kehidupan. * Penulis, Direktur Irndra Udayana Institute of Vedanta.

Idealisme Karna Perlu Ditiru




Media Hindu No. 63 – Mei 2009.

Oleh: Ni Made Ayu Sukma Asritya*)

Karna, putra Dewi Kunti.
Pada suatu hari, Kunti ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, bernama Resi Durwasa. Puas atas pelayanan Kunti pada jamuan itu, Durwasa menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, dengan mantra ia dapat mengundang dewa dan mendapat anugerah putra darinya.

Keesokannya Kunti mencoba mantra tersebut sambil memandang matahari terbit, sehingga Surya, dewa matahari, muncul dan siap memberinya seorang putra. Kunti yang ketakutan menolak karena dirinya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Dengan sabda sang dewa, Kunti pun mengandung. Namun Surya membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya lalu kembali ke kahyangan setelah memulihkan kembali keperawanan Kunti.

Demi menjaga nama baik negaranya, “putra Surya” itu dihanyutkan di sungai hingga akhirnya ditemukan oleh Adirata, seorang sais kereta Kerajaan Kuru yang dengan gembira menjadikan bayi tersebut sebagaianaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena.
Basusena diasuh dalam keluarga Adirata, sehingga dikenal dengan julukan Sutaputra (anak kusir). Namun, julukan lainnya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna “anak Radha’ (istri Adirata). Radheya berkeinginan menjadi sorang perwira kerajaan. Radheya memutuskan belajar ilmu perang, khususnya dalam hal ilmu memanah. Selain belajar ilmu mernanah dan Parasurama, Radheya juga belajar ilmu perang dengan mengintai Drona saat sedang mengajar murid-muridnya. Meskipun berguru secara tidak resmi, kehebatan Radheya dalam memanah melebihi murid-murid resmi Drona. Bakat keterampilan ini Radheya dijuluki sebagai Karna.

Suatu ketika, terjadi uji tanding antara Kurawa dengan Pandawa sebagai murid-murid Drona, Karna berhasil menandingi kesaktian Arj una. Namun akibat Karna bukan raja atau anak raja maka Karna diusir dan arena. Kesaktian Karna diketahui oleh Duryodhana, ketua para Kurawa itu pun mengangkatnya menjadi raja Angga. Sejak itu Karna bersumpah setia kepada Duryodana sebagai balas budinya.

Beberapa waktu pun berlalu, hingga Karna tahu bahwa dirinya adalah anak Dewi Kunti dan Dewa Surya. Dewi Kunti merayu Karna agar bergabung dengan para Pandawa. Namun Karna kembali bersikap tegas dan menolak bergabung dengan pihak Pandawa. Karna merasa hanya para Korawa-lah yang selama ini menghargainya dan mengenalkannya arti “persahabatan sejati” dan jika Karna beralih ke kubu Pandawa berarti dirinya seorang pengkhianat.
Ketika Bharatayudha pecah, Karna diangkat sebagai panglima perang oleh Duryodhana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam Karnapanwa, disebutkan Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17. Meskipun sewaktu di dunia Karna hidup bersama Para Korawa, namun ketika berada di akhirat jiwanya berkumpul dengan para Pandawa.

Idealisme Karna di masa kini.
Kisah Karna berhubungan dengan nilai-nilai kesetiaan yang terdapat dalam ajaran Panca Satya. Kelima nilai kesetiaan itu adalah:

Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata dan tidak berdusta.
Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tidak mudah terombang-ambing.
Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat.
Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman atau sahabat.
Kelima, satya semaya, artinya setia kepada sumpah ataupun janji.

Pelajaran penting dari kisah Karna adalah bahwa idealisme Karna perlu ditiru oleh masyarakat. Karna tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak mudah digoyahkan oleh apapun. Para calon pemimpin, hendaknya mempunyai sifat seperti Karna yang Setia pada janji-janjinya, setia pada sahabat-sahabatnya, berpendirian teguh, serta jujur dan bertanggung jawab. Jangan hanya mengobral janji palsu yang tidak menghantarkan hasil bagi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu mengatasi masalah-masalah kenegaraan yang krusial. Rgveda X.91. 2 menyebutkan : ”janan janam janyo ndti manyate visa a kseti visyo visath visam”. Artinya, pemimpin bagaikan api, pemimpin adalah seorang tokoh yang mencintai sesama manusia dan tidak membenci siapapun. Setiap pemimpin terpilih harus mampu menempatkan diri secara tepat dan mampu memandang jelas serta membedakan antara kekuasaan dan kepemimpinan. Karena kepemimpinan tanpa kebijaksanaan akan berubah menjadi kekuasaan. Sedangkan kekuasaan berpeluang besar menimbulkan penindasan. Oleh sebab itu, Kitab Ramayana Jawa Kuno Bab I Sloka 9 menyatakan, “parartha gunawe sukhanin bhuwana”. Artinya, seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan umum dan berbuat untuk kebahagiaan rakyat banyak.
Penulis adalah Pemenang I Lomba Karya Ilmiah Populer 2008 (essay) Pelajar Tingkat SMP se Kota Bontang

Senin, 17 Agustus 2009

Sentuhan Bali Bergaya Internasional

MEMAHAMI Bali, adalah memahami beragam keindahannya. Budaya yang dipaparkan, dan beragam gerak kehidupan masyarakatnya adalah keindahan. Beranjak dari itulah para perancang Bali mencoba memotret keindahan budaya Bali lewat busana. Sebuah oase pun tercipta.

Untuk ukuran Indonesia, Bali memang sangatlah bernuansa etnis Bali berpadu dengan gaya modern. Hal itu terjadi karena banyaknya pengaruh dari luar negeri masuk sehingga Bali yang tadinya sangat kental dengan ornamen tradisional Bali kini mulai dipengaruhi oleh gaya modern, minimalist, art deco atau apa saja yang sifatnya internasional.

Sekelompok Perancang Mode kreatif Bali mencoba menjabarkan karya-karya terbaru mereka yang sarat dengan nuansa etnis Bali dengan penyajian desain yang sangat modern dan bergaya internasional.

Koleksi terbaru ini akan ditampilkan nanti pada pagelaran akbar Bali In Fashion 2009 di Kharisma Ballroom Discovery Kartika Plaza Hotel Kuta, 12 Agustus 2009.

Di sini ditampilkan sebagian dari karya mereka yang rata-rata menggunakan kain tradisional Bali seperti tenun ikat, songket, perada ataupun kain batik Bali yang kita kenal dengan sebutan batik colet.

Seperti karya Raphael, desainer muda multitalenta ini terinspirasi oleh Calon Arang ke dalam koleksinya yang bergaya etnik modern kontemporer, dengan memakai bahan poleng dipadukan dengan bahan-bahan lain yang berwarna hitam putih.

Tude Togog, desainer yang base usahanya di Gianyar ini menampilkan gaun-gaun modern dengan bahan tradisional Bali tenun ikat atau yang lebih terkenal kita sebut bahan endek.

Raden Sirait perancang yang base usahanya di Jakarta dan Bali ini tetap menampilkan ciri khasnya yaitu kebaya. Kali ini ia memakai bahan bawahannya dari songket Bali.

Begitu juga dengan Oka Diputra, perancang muda asal Ubud dan cukup dikenal di seantero Nusantara ini mengolah songket Bali dengan gaya yang sangat unik yaitu perpaduan gaya Asia dengan barat.

Perancang senior Bali Elice Seymour dan desainer kawakan Ali Charisma mencoba menampilkan gaya Bali malam hari. Jika Elice menampilkan koleksi untuk party larut malam, dugem dan clubing, Ali Charisma mencoba membuat koleksi untuk pesta formal malam hari atau jamuan makan malam.

Kemudian Nandie Amidarmo, salah satu desainer yang punya gagasan untuk menggelar acara ini menampilkan busana santai dan formal siang hari. Sebagai aksentuasi Nandie mengolah motif kain-kainnya dengan batik colet Bali dengam ornamen bunga-bunga yang biasa terdapat pada kain perada Bali.

Keseluruhan foto hasil jepretan Puri Artistik Photographer ini mencoba menampilkan suasana Bali dari setiap sudut fotonya, agar penampilan koleksi ini bisa langsung ditebak bahwa ini adalah karya para perancang mode dari Bali. Sebuah gagasan cerdas untuk memotret keindahan, keriuhan, dan geletak Bali dalam sebuah busana modern, tanpa meninggalkan nuansa dan suasana iklim Bali. (osi)

Sumber: www.balipost.com
» Trend
Minggu, 09 Agustus 2009


Senin, 10 Agustus 2009

Kapan Dunia Kiamat

Minggu, 09 Agustus 2009
Oleh I Ketut Wiana
Tapah param krta yugetretayam jnanamuscyate.
Dwapare yajnaewahurDanamekam kalau yuge.(Manawa Dharmasastra, I.86).
Maksudnya:
Pada zaman Kerta Yuga, dengan bertapalah cara beragama yang paling utama. Zaman Treta Yuga, beragama dengan mengamalkan ilmu pengetahuan suci (jnana) itulah yang paling utama. Zaman Dwapara Upacara, yadnya-lah yang paling utama. Sedangkan pada zaman Kali Yuga, dana punia-lah cara beragama yang paling utama.PERUBAHAN terjadi karena adanya perjalanan waktu. Waktu terjadi karena adanya peredaran isi alam. Misalnya bumi mengelilingi matahari dan bulan mengelilingi bumi. Demikian juga planet-planet yang lainnya beredar sesuai dengan hukum Rta. Agar hidup ini dapat mengikuti perubahan waktu, sikap hidup pun harus berubah disesuaikan dengan perubahan itu.Alam ciptaan Tuhan ini memberikan ruang dan waktu pada kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Seperti pernyataan sloka Manawa Dharmasastra I.86, ada tuntunan cara beragama umat manusia pada setiap zaman. Semua ciptaan Tuhan ditata berdasarkan hukum utpati (tercipta), sthiti (hidup terpelihara) dan pralina (lenyap kembali kepada asalnya). Alam dan isinya ini, setelah masanya selesai beredar dan berputar-putar, akan pralina atau pralaya. Istilah lainnya, kiamat.Ada suatu kelompok keyakinan yang menyatakan dunia akan kiamat akhir 2009 ini. Ada juga isu-isu yang menyatakan dunia akan kiamat akhir 2012. Pendapat atau pandangan tentang dunia kiamat itu dalam era demokrasi dewasa ini tentunya boleh-boleh saja. Yang patut dijelaskan, bagaimana pandangan Hindu tentang dunia kiamat ini.Istilah kiamat memang tidak dijumpai dalam ajaran Hindu. Namun, yang mirip dengan konsep kiamat mungkin konsep pralina atau pralaya dalam kitab-kitab Purana. Dalam kitab-kitab Purana, utpati, sthiti dan pralina dibahas secara khusus. Memang terdapat sedikit perbedaan antara Purana satu dan Purana lainnya mengenai konsep ini. Namun, secara umum menyangkut hal-hal yang substansial, semua Purana isinya sama, bahwa semua ciptaan Tuhan ini kena hukum Tri Kona yaitu utpati, sthiti dan pralina itu.Dalam kitab Brahma Purana misalnya dinyatakan satu hari Brahman (satu kalpa) atau satu siang dan satu malamnya Tuhan lamanya 14 manwantara. Satu manwantara = 71 maha yuga. Satu maha yuga = empat zaman yaitu kerta, treta, dwapara dan kali yuga. Satu maha yuga = 432 juta tahun.Sekarang peredaran alam semesta sedang berada pada manwantara ketujuh dibawah pimpinan Vaivasvata Manu. Ini artinya pralaya atau kiamat total akan terjadi setelah manu ke-14 berakhir. Manu ke-14 adalah Suci sebagai Indra Savarni Manu.EMPAT KONSEP PRALAYAKonsep pralaya dalam Wisnu dan Brahmanda Purana ada dinyatakan empat konsep pralaya yaitu:
1. NITYA PRALAYA yaitu proses kematian yang terjadi setiap hari dari semua makhluk hidup. Bahkan dalam diri manusia pun setiap detik ada sel tubuhnya yang mati dan diganti dengan sel baru. Sel tubuh manusia terjadi utpati, sthiti dan pralina.
2. NAIMITIKA PRALAYA adalah pralaya yang terjadi dalam satu periode manu. Menurut pandangan ini akan terjadi pralaya terbatas dalam setiap akhir manwantara. Ini artinya akan terjadi 14 kali naimitika pralaya atau kiamat terbatas atau kehancuran alam secara terbatas.
3. PRAKRTIKA PRALAYA yaitu terjadinya pralaya secara total setelah manwantara ke-14. Saat terjadinya Prakrtika Pralaya, seluruh alam semesta beserta isinya lenyap dan kembali pada Brahma atau Tuhan yang Mahaesa dalam waktu yang panjang atau satu malamnya Brahma. Setelah itu akan terjadi penciptaan lagi dan memulai dengan manwantara pertama lagi. Prakrtika Pralaya inilah yang mungkin identik dengan konsep kiamat menurut kepercayaan lainnya. Karena, semua unsur alam dengan segala isinya kembali pada Brahman. Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhanlah yang kekal abadi.
4. ATYANTIKA PRALAYA yaitu pralaya yang disebabkan oleh kemampuan spiritualnya melalui suatu pemberdayaan jnyana yang amat kuat sehingga seluruh dirinya masuk secara utuh lahir batin kepada Tuhan Brahman.Demikian konsep pralaya (semacam kiamat) menurut Hindu. Yakinlah, pralaya dalam arti Prakrtika Pralaya tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, apalagi dinyatakan akhir tahun ini atau tahun 2012 mendatang. Sedangkan Nitya Pralaya akan terjadi dalam setiap hari, ada makhluk hidup yang mati dan ada yang lahir.Untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga itu, Swami Satya Narayana menyatakan agar manusia berperilaku seperti zaman atau mengikuti yuga sebelumnya. Misalnya, pada zaman treta, Sri Rama dan para pengikutnya berperilaku mengikuti zaman kerta yuga meskipun Sri Rama hidup pada zaman treta yuga. Sedangkan Rahwana berperilaku seperti zaman kali. Karena itu, Sri Rama dengan pengikutnya selamat hidup di bawah lindungan dharma dan Rahwana hancur karena hidup berdasarkan adharma.
Demikian juga Pandawa dengan Sri Krisna hidup pada zaman dwapara yuga, tetapi perilakunya mengikuti zaman kerta dan treta yuga. Dengan demikian Pandawa dan Sri Krisna memenangkan hidup berdasarkan dharma, sedangkan Korawa hancur karena mengikuti cara hidup yang adharma.Demikianlah kini, kalau ingin selamat dari pengaruh zaman kali, hiduplah seperti zaman dwapara. Bahkan kalau bisa, ikuti treta atau kerta, maka akan selamatlah dari pengaruh buruk zaman kali. Justru pengaruh baiknya yang akan didapatkan.

Jumat, 07 Agustus 2009

Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan (Budha Kliwon Dungulan)

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan.
Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.


Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

  1. Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
    Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
  2. Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
    Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
  3. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
    Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.

Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.
Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.

Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.
Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.

Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.
Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.
Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.
Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.

Kesimpulan:

  • Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa.
  • Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.
  • Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.
  • Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

Om, sampurna ya nama swaha.
Om, sukham bhawantu.

Selasa, 04 Agustus 2009

Pagerwesi


Setiap Buda Kliwon Sinta, kita (umat Hindu) merayakan rerahinan Pagerwesi. Dari kediaman sekarang (Blitar), saya membayangkan daerah-daerah yang mayoritas penduduknya umat Hindu pasti sudah tampak sibuk mempersiapkan sarana upakara untuk merayakan Pagerwesi. Umat, terutama ibu-ibu sudah tampak menghaturkan sesajen atau banten di merajan atau sanggah masing-masing di pagi hari. Beberapa di antara mereka selanjutnya menuju Pura yang ada di desanya masing-masing atau ke Pura Jagatnatha. Karena varna yang berbeda dari umat, masing-masing menyesuaikan waktunya untuk tangkil ke Pura. Para pemangku memberikan pelayanan dengan sabar yang sejak pagi sudah didatangi pemedek guna melakukan persembahyangan. Di Bali khususnya, di Pura-Pura yang sehari-harinya juga menjadi daerah kunjungan wisata, biasanya pemedek tampak berbaur dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang memasuki areal pura (non-Utama Mandala) diantar oleh guide-nya. Mereka rupanya ingin menyaksikan dari dekat proses persembahyangan di pura tersebut. Nampaknya umat yang sudah terbiasa dengan situasi itu tidak begitu terpengaruh oleh kehadiran bule-bule tersebut yang sedikit menyesuaikan dalam hal busana walaupun “sraba-srebe”.

RENUNGAN

Dalam melaksanakan kewajiban selaku umat pemuja Brahman, pernahkah kita merenungkan: Apa sesungguhnya hakekat perayaan Pagerwesi? Disebutkan bahwa Pagerwesi sebagai hari payogan Sang Hyang Pramesti Guru, Jiwa Utama Brahman sebagai Guru Tertinggi atau gurunya segala guru.

Tentang nama Brahman yang diberikan sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, saya mempunyai pengertian: “Sang” adalah sebutan kehormatan, “Hyang” berarti yang maha, “Pramesti” terdiri dari kata “Parama” yang berarti agung, luhur, tertinggi dan “Isti” berarti permohonan, “Guru” dalam hal ini adalah Guru Swadhyaya yaitu Brahman. Jadi, Sang Hyang Pramesti Guru adalah Jiwa Utama Brahman sebagai Sang Maha Pengabul pada semua permohonan yang luhur.

Perayaan Pagerwesi masih satu rangkaian dengan perayaan Saraswati. Dalam perayaan Saraswati, kita memuja Shakti Brahman sebagai sumber dari segala sumber pengetahuan, dan sumber kebijaksanaan. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, itu tidak akan berarti apa-apa untuk kesempurnaan jiwanya, jika hal itu tidak menuntunnya untuk memuja Brahman yang merupakan pengetahuan murni dirinya. Abdikanlah ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan kepada kita untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi alam semesta sesuai dengan varna yang telah ditentukan pada diri kita masing-masing. Komitmen tersebut mesti mampu menjadi pagar atau benteng (“pura” sejati dalam diri) yang kokoh untuk melindungi diri kita dari segala macam godaan selama mengarungi samudera kehidupan. Dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan, umat diharapkan memiliki wawasan yang luas, sekaligus mampu menghadapi berbagai persoalan hidup.
Pada perayaan Pagerwesi ini, mari kita panjatkan permohonan-permohonan dan kukuhkan komitmen-komitmen yang luhur. Berkomitmen untuk melaksanakan dharma lebih baik lagi dari hari-hari sebelumnya.

“yathadityah samudyan vai tamah sarvvam vyapohati,
evam kalvanamatistam sarvvapapam vyapohati.”

(Sarasamuccaya, sloka16)

Kadi kramaning Sang Hyang Aditya, umijil angilangaken petenging rat, mangkana titikaning wong amulahaken ing dharma, angilangaken sakabehing papa.

(Seperti halnya perilaku matahari yang terbit melenyapkan kegelapan dunia, demikianlah ciri-cirinya pada orang yang melaksanakan dharma, adalah memusnahkan segala macam kenistaan jiwa).

Om dirghayuastu tad astu astu,
Om awighnamastu tad astu astu,
Om subhamastu tad astu astu,
Om sriyam bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu.
Om a no badrah kratawo yantu wiswatah.