Sabtu, 31 Oktober 2009
Rayakan Hari Kuningan, KBRI Stockholm Jadi Tempat Sembahyang
Eddi Santosa - detikNews
Stockholm - Puluhan warga Indonesia dan Swedia penganut Hindu Bali menyulap KBRI Stockholm menjadi tempat sembahyang untuk merayakan Hari Kuningan. Di Swedia gedung KBRI ini menjadi etalase kerukunan beragama.
Perayaan Hari Kuningan, yakni hari ke-10 puncak rangkaian perayaan Galungan, digelar Sabtu (24/10/2009) lalu. KBRI Stockholm menjadi meriah dengan aneka sesajian dari berbagai jenis buah-buahan, bunga, dan makanan.
"Selanjutnya para penganut agama ini secara khidmat melakukan sembahyang," tutur Sekretaris I Pensosbud KBRI Stockholm Dody Kusumonegoro kepada detikcom petang ini.
Seusai sesi ritual, warga memeriahkan perayaan dengan berbagai hiburan. Mereka menyanyi dan membawakan tari-tarian Bali yang menambah kesemarakan perayaan Galungan dan Kuningan.
Di bawah kepemimpinan Dubes Linggawaty Hakim, KBRI Stockholm memang menjadi rumah nyaman bagi semua pemeluk agama sesuai falsafah Pancasila dan mereka bebas menyelenggarakan perayaan hari-hari besar agama masing-masing.
"Saya senang warga merayakan Idul Fitri, Natal, Galungan-Kuningan, dan lainnya di KBRI. Dan rupanya ini menjadi perhatian menarik di mata masyarakat Swedia," ujar Linggawaty.
Pemeluk Hindu Bali di Indonesia saat ini tercatat ada 1,8% dari total 230 juta penduduk Indonesia yang mayoritas (87%) muslim. Agama hanya satu bagian dari mozaik bangsa Indonesia yang begitu beragam, dengan 300 etnik dan lebih dari 742 bahasa dan dialek
Bhineka Tunggal Ika Karya Gemilang Mpu Tantular
"Wawasan pemikiran pujangga besar yang hidup di jaman kejayaan Kerajaan Majapahit itu, terbukti telah melompat jauh ke depan. Nyatanya, semboyan itu hingga sekarang masih relevan terhadap perkembangan bangsa, negara dan bahkan kemajuan iptek yang pesat di era global," kata Ketua Sekolah Tinggi Agama Budha Syailendra Salatiga, Jawa Tengah, Hastho Bramantyo MA di Denpasar, Selasa.
Ketika tampil sebagai pembicara pada seminar nasional "Sutasoma Lintas-agama dan Landasan Teologi Kerukunan", ia mengatakan, sebanyak 17 huruf dalam tiga kata Bhineka Tunggal Ika, bermakna mendalam yang mampu menggambarkan secara utuh dan menyeluruh hakekat keberagaman jagat semesta raya.
Karya besar itu lahir melalui dinamika proses perenungan dan kristalisasi pemikiran yang panjang, setidaknya membutuhkan waktu satu dasawarsa atau sepuluh tahun.
Konsep dan formulasi Bhineka Tunggal Ika hasil buah pemikiran gemilang Mpu Tantular, dicetuskan tujuh abad silam dalam karya berjudul Kekawin (pembacaan ayat-ayat suci agama Hindu-Budha) Purusadasanta, atau kini lebih populer dengan sebutan Kekawin Sutasoma.
Pada seminar nasional yang digelar Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar itu, Hastho Bramantyo menjelaskan, Kekawin Sutasoma menempati posisi penting bersama dengan karya lainnya seperti Pararaton dan Negara Kertagama.
Kekawin Sutasoma berfungsi sebagai ilmu tentang keagamaan atau teologi bagi Raja Rajasanegara pada zaman kerajaan Majapahit. Bagi Indonesia modern, kitab itu juga memberikan inspirasi dan tempat ditemukannya moto Bhineka Tunggal Ika.
Sejumlah peneliti dalam dan luar negeri belum bisa menemukan sumber yang definitif tentang Kekawin Sutasoma, namun yang jelas kekawin tersebut bercorak Budhis.
Peneliti Sutasoma tersebut antara lain Ida Bagus Sugriwa (1956), Eisink (1967), Soewito Santoso (1975) dan Zoetmulder (1983), tutur Hastho Bramantyo.
Kamis, 20 Agustus 2009
Membaca Bulan Tanpa Air Jernih…….
| | |
Artikel Apresiasi – Balipost Minggu, 26 April 2009.
Kekuatan Magnetik Bulan Mempengaruhi Air di Bumi
Taruhlah seribu tempayan berisi air jernih di bawah sinar bulan. Maka sebanyak jumlah tempayan itulah bayangan bulan yang nampak. Tapi kalau menoleh ke atas, hanya ada satu bulan bersinar.
Begitulah salah satu metafora yang sering dipergunakan dalam Sastra Kawi. Maksudnya, barangkali, orang yang pikiran dan hatinya jernih, sikapnya tenang, dan lahir bathin suci, sekujur dirinya akan memancarkan cahaya lembut seperti bulan. Pada seribu orang suci seperti itu akan nampak seribu bulan.
Ratusan mungkin banyaknya metafora yang dibuat orang tentang bulan. Karena bulan adalah satu dari beberapa pusat perhatian manusia bumi. Di antara ratusan metafora yang ada, saya melihat ada dua gagasan umum yang bertentangan tapi berdampingan: bulan itu cantik dan bulan itu seram.
Mereka yang melihat bulan itu cantik menghubungkannya dengan gagasan tentang keindahan, terutama keindahan cinta asmara. Bulan pun dijadikan perlambang perasaan asmara itu. Mereka sebut bulan itu Dewi Ratih, Indu, dan berbagai sebutan lain dalam bahasa berbeda. Dalam banyak karya sastra dilukiskan insan yang sedang dirundung asmara akan diaduk-aduk perasaannya oleh perasaan rindu pada kekasih dan seperti disedot oleh kekuatan sinar bulan lantas mereka memandang bulan lama-lama. Tak cukup memandang, mereka juga membisikkan pada bulan tentang rahasia hatinya yang paling dalam.
Entah karena apa, banyak pengarang yang berhasil melukiskan hal-hal seperti itu. Banyak pembaca ternyata senang membacanya. Hanya sedikit kritikus yang mengatakan bahwa lukisan itu hanyalah bentuk lain dan kecengengan alias sentimentalitas berlebihan. Tapi biarlah. Yang jelas, banyak orang sepakat bahwa bulan itu mewakili gagasan kecantikan dan keindahan.
Tapi bahwa bulan itu mewakili gagasan tentang keseraman ternyata juga banyak pemeluknya. Misalnya, cerita horor tentang Drakula dihubungkan dengan bulan pernama. Srigala malam yang melolong-lolong melihat roh-roh dan makhluk halus juga dihubungkan dengan bulan. Cerita manusia harimau jadi-jadian, dan beberapa wujud jadi-jadian lainnya, selalu dihubungkan dengan bulan, bahwa bulan purnama yang bersinar terang dan sejuk, indah dan menenteramkan mata dan hati.
Sebagai wakil dari gagasan keseraman, dalam tradisi kita bulan disebut Soma, sebuah kata yang juga berarti hari Senin, sehari setelah hari Redite (Minggu), yaitu nama lain untuk matahari. Putera Soma yang telah paripurna mempelajari ajaran Tantra Bhairawa disebut Sutasoma. Putera Bulan ini menjadi tokoh utama dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata bhairawa berarti ‘yang seram’, ‘yang dahsyat‘ yang menakutkan ‘yang gelap dan hitam’.
Gelap dan hitam adalah warna malam. Bulan adalah ratu penguasa malam. Kekuatan magnetik bulan mempengaruhi air yang ada di bumi. Air pun disimbulkan hitam dalam upakara dan upacara. Air adalah malam. Sementara tanah yang disebut lemah dihubungkan dengan siang. Dari kata lemah memang berarti siang hari.
Bulan memiliki hubungan dengan Kala. Ia disebut Sasih, yang juga berarti musim. Keempat musim yang ada di bumi adalah bagian dari Prajapati yang dalam banyak sumber tertulis diidentikkan dengan tahun. Prajapati berhubungan langsung dengan Durgha yang memberi penugasan pada Kala di dunia.
Hubungan bulan dengan Kala dapat digambarkan sebagai pertautan dalam konflik. Bulan memiliki kemampuan menawar kekuatan Kala. Dalam Kakawin Sumanasantaka misalnya disebutkan sungai atau air mistis yang bersumber dari bulan disebut Narmada. Air ini diyakini memiliki kekuatan tawar dengan Kala. Air inilah yang kemudian oleh banyak orang disebut air awet muda.
Karena bulan punya kekuatan yang menandingi Kala, maka ia menjadi incaran Kala, yaitu Kalarahu. Dalam mitologi dijelaskan ketika Kalarahu berhasil mencaplok bulan, dan sebelum ia herhasil menelannya karena lehernya dipanah, maka meneteslah air dan bulan dan jatuh ke bumi. Banyak orang percaya air yang menetes itu adalah amerta, air yang membuat peminumnya tidak akan “mati-mati’, alias melampaui batas hukum Kala. Kuat asumsi bahwa amerta inilah yang disebut Narmada yang sekarang diyakini walau tidak membuat peminumnya akan hidup terus, paling tidak akan menunda kematian alias awet muda.
Dan hubungannya dengan Bhairawa, Kala, dan Durgha, maka bulan kemudian sering dihubungkan dengan paham yang berkonotasi hitam, kin. Bulan pun disebut Dyah Sasangka yang cantik dan sekaligus seram.
Gagasan bulan sebagai yang cantik dan sekaligus seram identik dengan gagasan orang tentang kuburan yang disebut Setra Gandamayu (tempat berbau harum). Kuburan adalah tempat mayat dengan konotasi ketidaksucian alias leteh. Tapi secara mistis tempat mayat itu dipandang menyebarkan bau harum. Pada kesempatan lain kita akan belajar membaca buku besar bernama Kuburan. •IBM Dharma Palguna.
yang lainnya kelik disini /www.parisada.org
Mantap dalam Kesendirian
| | |
NusaBali – Rabu, 13 Mei 2009.
Oleh : I Gede Suwantana*
Aho janasamuho’pi na dvaitam pasyato mama,
Aranyamiva sambrtam kva ratim karavânyaham,
(Astavakra Samhita, II. 21.)
Oh, Aku tidak menemukan adanya dualitas. Meskipun di dalam keramaian manusia, semuanya telah menjadi seperti di Hutan rimba. Untuk apa harus Aku mengikat diri sendiri?
TELAH menjadi seperti di hutan rimba artinya bahwa kita merasa mutlak sendiri. Ke mana pun kita pergi, keheningan diri tidak pernah terganggu. Keributan, kekacauan, dan keguncangan duniawi tidak mempengaruhi kesendirian, keheningan kita.
Bagaimana mungkin ada gangguan, sebab yang kita lihat hanya kesatuan di mana-mana. Kita merasa terganggu karena ada sesuatu di luar diri kita yang mengganggu. Gangguan ada karena kita ada dalam dualitas, ada diri yang terganggu dan ada sesuatu lain yang mengganggu. Tetapi jika yang ada hanya satu, jika hanya Aku saja yang eksis, maka mustahil
datangnya gangguan, dan apa atau dan siapa gangguan itu datang?
Bagi orang yang telah mencapai Pengetahuan-Diri, yang telah berada dalam Kesadaran Ilahi, maka, rasa kesatuan ini telah menjadi nature-nya. Ketika dualitas telah dapat kita lalui, maka panas-dinginnya kehidupan tidak akan mempengaruhi kita lagi. Panas dingin itu telah lenyap bersama dualitas itu. Tidak ada orang yang mampu mengganggu kita lagi, sebab mereka yang ada di luar kita sesungguhnya bukan berbeda dari kita, kita merasa mereka adalah bagian dari kita sendiri. Emosi kita juga akan stabil, sebab keterikatan akan sesuatu tidak ada lagi. Sesuatu yang di luar telah tiada atau ia ada tetapi ilusi, tidak nyata, hanya bayangan. Kita tidak mungkin marah, sebab untuk marah kita memerlukan objek untuk dimarahi. Saat kita merasa kesatuan, segala sesuatunya hanya satu, hanya Sang Diri eksis, maka marah tidak akan mungkin muncul.
Lalu apakah dengan kita telah mencapai Pengetahuan Diri ini, kita tidak memiliki marah lagi, kita tidak memiliki emosi lagi? Karena kita telah mantap dalam kesendirian, tidak terganggu dengan keramaian, apakah berarti kita tidak perlu berinteraksi sosial, karena mereka sudah tidak bisa menyentuh nasa kita lagi? Alangkah kacaunya hidup ini jika orang hanya sibuk dengan kesendiriennya, tanpa peduli dengan orang lain?
Bukan demikian maksud pernyataan ini. Pencapaian akan Pengetahuan-Diri bukan berarti menghilangkan kesempurnaannya. Rasa marah, cinta, atau bentuk-bentuk emosi lainnya, demikian juga keinginan kita untuk tetap berinteraksi sosial, rasa kebersamaan adalah pengisi sel-sel kelengkapan alam semesta. Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki fungsi masing-masing yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga proses kehidupan bisa berjalan dengan baik. Alam semesta ini berkembang dengan sempurna. Pencapaian akan Pengetahuan Diri tidak menghilangkan peran salah satu atau beberapa fungsi dari sistem ini. Justeru ketika kita mencoba menghilangkan salah satunya atau beberapa bagiannya, sistem ini tidak dapat berjalan dengan maksimal.
Jadi di sini, rasa marah tetap berada dalam kesempurnaannya dan kemuliaannya. Marah juga ada dalam diri orang yang telah mencapai Kesadaran Tertinggi, tetapi berbeda dengan kemarahan yang dimiliki orang biasa. Bagi orang yang telah tercerahi, marah yang ditampilkannya hanya sebuah lakon, hanya drama, sedangkan marah bagi orang
kebanyakan, betul-betul membelenggunya. Dia tidak dapat membedakan antara kemarahan den dirinya. Dia benar-benar terindentifikasi dengan kemarahan itu. Jadi bagi mereka yang telah mencapai Pengetahuan Diri ini tidak pernah terpengaruh dengan apa pun yang terjadi di luar dirinya sebab dualitas telah lenyap baginya, objek yang mempengaruhi dirinya telah tiada. Dan apa yang terjadi hanyalah sebuah Drama yang mesti dilakonkan. Sedangkan orang kebanyakan, terikat dengan kemarahan itu. Mereka jatuh oleh kemarahan itu. Mereka terindentifikasi oleh kemarahan itu. Kemarahan adalah identitasnya. Mereka tidak mengerti bahwa semuanya hanyalah lakon.
Demikian, kebenaran tidak akan berubah, dan tidak ada yang mesti diubah untuk berada dalam capaian Pengetahuan-Diri. Saat kita menyadari semua itu, maka kita mengenti semuanya hanyalah drama. Dan ketika kita mengerti bahwa hidup hanya drama, maka kita akan mampu merasakan kesatuan itu. Kita telah mantap berada dalam kesendirian. Tetapi, bagi mereka yang tidak mengerti, maka yang terjadi adalah kebalikannya, selamanya terbelenggu oeh dualitas kehidupan. * Penulis, Direktur Irndra Udayana Institute of Vedanta.
Idealisme Karna Perlu Ditiru
| | |
Media Hindu No. 63 – Mei 2009.
Oleh: Ni Made Ayu Sukma Asritya*)
Karna, putra Dewi Kunti.
Pada suatu hari, Kunti ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, bernama Resi Durwasa. Puas atas pelayanan Kunti pada jamuan itu, Durwasa menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, dengan mantra ia dapat mengundang dewa dan mendapat anugerah putra darinya.
Keesokannya Kunti mencoba mantra tersebut sambil memandang matahari terbit, sehingga Surya, dewa matahari, muncul dan siap memberinya seorang putra. Kunti yang ketakutan menolak karena dirinya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Dengan sabda sang dewa, Kunti pun mengandung. Namun Surya membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya lalu kembali ke kahyangan setelah memulihkan kembali keperawanan Kunti.
Demi menjaga nama baik negaranya, “putra Surya” itu dihanyutkan di sungai hingga akhirnya ditemukan oleh Adirata, seorang sais kereta Kerajaan Kuru yang dengan gembira menjadikan bayi tersebut sebagaianaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena.
Basusena diasuh dalam keluarga Adirata, sehingga dikenal dengan julukan Sutaputra (anak kusir). Namun, julukan lainnya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna “anak Radha’ (istri Adirata). Radheya berkeinginan menjadi sorang perwira kerajaan. Radheya memutuskan belajar ilmu perang, khususnya dalam hal ilmu memanah. Selain belajar ilmu mernanah dan Parasurama, Radheya juga belajar ilmu perang dengan mengintai Drona saat sedang mengajar murid-muridnya. Meskipun berguru secara tidak resmi, kehebatan Radheya dalam memanah melebihi murid-murid resmi Drona. Bakat keterampilan ini Radheya dijuluki sebagai Karna.
Suatu ketika, terjadi uji tanding antara Kurawa dengan Pandawa sebagai murid-murid Drona, Karna berhasil menandingi kesaktian Arj una. Namun akibat Karna bukan raja atau anak raja maka Karna diusir dan arena. Kesaktian Karna diketahui oleh Duryodhana, ketua para Kurawa itu pun mengangkatnya menjadi raja Angga. Sejak itu Karna bersumpah setia kepada Duryodana sebagai balas budinya.
Beberapa waktu pun berlalu, hingga Karna tahu bahwa dirinya adalah anak Dewi Kunti dan Dewa Surya. Dewi Kunti merayu Karna agar bergabung dengan para Pandawa. Namun Karna kembali bersikap tegas dan menolak bergabung dengan pihak Pandawa. Karna merasa hanya para Korawa-lah yang selama ini menghargainya dan mengenalkannya arti “persahabatan sejati” dan jika Karna beralih ke kubu Pandawa berarti dirinya seorang pengkhianat.
Ketika Bharatayudha pecah, Karna diangkat sebagai panglima perang oleh Duryodhana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam Karnapanwa, disebutkan Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17. Meskipun sewaktu di dunia Karna hidup bersama Para Korawa, namun ketika berada di akhirat jiwanya berkumpul dengan para Pandawa.
Idealisme Karna di masa kini.
Kisah Karna berhubungan dengan nilai-nilai kesetiaan yang terdapat dalam ajaran Panca Satya. Kelima nilai kesetiaan itu adalah:
Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata dan tidak berdusta.
Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tidak mudah terombang-ambing.
Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat.
Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman atau sahabat.
Kelima, satya semaya, artinya setia kepada sumpah ataupun janji.
Pelajaran penting dari kisah Karna adalah bahwa idealisme Karna perlu ditiru oleh masyarakat. Karna tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak mudah digoyahkan oleh apapun. Para calon pemimpin, hendaknya mempunyai sifat seperti Karna yang Setia pada janji-janjinya, setia pada sahabat-sahabatnya, berpendirian teguh, serta jujur dan bertanggung jawab. Jangan hanya mengobral janji palsu yang tidak menghantarkan hasil bagi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu mengatasi masalah-masalah kenegaraan yang krusial. Rgveda X.91. 2 menyebutkan : ”janan janam janyo ndti manyate visa a kseti visyo visath visam”. Artinya, pemimpin bagaikan api, pemimpin adalah seorang tokoh yang mencintai sesama manusia dan tidak membenci siapapun. Setiap pemimpin terpilih harus mampu menempatkan diri secara tepat dan mampu memandang jelas serta membedakan antara kekuasaan dan kepemimpinan. Karena kepemimpinan tanpa kebijaksanaan akan berubah menjadi kekuasaan. Sedangkan kekuasaan berpeluang besar menimbulkan penindasan. Oleh sebab itu, Kitab Ramayana Jawa Kuno Bab I Sloka 9 menyatakan, “parartha gunawe sukhanin bhuwana”. Artinya, seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan umum dan berbuat untuk kebahagiaan rakyat banyak.
Penulis adalah Pemenang I Lomba Karya Ilmiah Populer 2008 (essay) Pelajar Tingkat SMP se Kota Bontang
Senin, 17 Agustus 2009
Sentuhan Bali Bergaya Internasional
Untuk ukuran Indonesia, Bali memang sangatlah bernuansa etnis Bali berpadu dengan gaya modern. Hal itu terjadi karena banyaknya pengaruh dari luar negeri masuk sehingga Bali yang tadinya sangat kental dengan ornamen tradisional Bali kini mulai dipengaruhi oleh gaya modern, minimalist, art deco atau apa saja yang sifatnya internasional.
Sekelompok Perancang Mode kreatif Bali mencoba menjabarkan karya-karya terbaru mereka yang sarat dengan nuansa etnis Bali dengan penyajian desain yang sangat modern dan bergaya internasional.
Koleksi terbaru ini akan ditampilkan nanti pada pagelaran akbar Bali In Fashion 2009 di Kharisma Ballroom Discovery Kartika Plaza Hotel Kuta, 12 Agustus 2009.
Di sini ditampilkan sebagian dari karya mereka yang rata-rata menggunakan kain tradisional Bali seperti tenun ikat, songket, perada ataupun kain batik Bali yang kita kenal dengan sebutan batik colet.
Seperti karya Raphael, desainer muda multitalenta ini terinspirasi oleh Calon Arang ke dalam koleksinya yang bergaya etnik modern kontemporer, dengan memakai bahan poleng dipadukan dengan bahan-bahan lain yang berwarna hitam putih.
Tude Togog, desainer yang base usahanya di Gianyar ini menampilkan gaun-gaun modern dengan bahan tradisional Bali tenun ikat atau yang lebih terkenal kita sebut bahan endek.
Raden Sirait perancang yang base usahanya di Jakarta dan Bali ini tetap menampilkan ciri khasnya yaitu kebaya. Kali ini ia memakai bahan bawahannya dari songket Bali.
Begitu juga dengan Oka Diputra, perancang muda asal Ubud dan cukup dikenal di seantero Nusantara ini mengolah songket Bali dengan gaya yang sangat unik yaitu perpaduan gaya Asia dengan barat.
Perancang senior Bali Elice Seymour dan desainer kawakan Ali Charisma mencoba menampilkan gaya Bali malam hari. Jika Elice menampilkan koleksi untuk party larut malam, dugem dan clubing, Ali Charisma mencoba membuat koleksi untuk pesta formal malam hari atau jamuan makan malam.
Kemudian Nandie Amidarmo, salah satu desainer yang punya gagasan untuk menggelar acara ini menampilkan busana santai dan formal siang hari. Sebagai aksentuasi Nandie mengolah motif kain-kainnya dengan batik colet Bali dengam ornamen bunga-bunga yang biasa terdapat pada kain perada Bali.
Keseluruhan foto hasil jepretan Puri Artistik Photographer ini mencoba menampilkan suasana Bali dari setiap sudut fotonya, agar penampilan koleksi ini bisa langsung ditebak bahwa ini adalah karya para perancang mode dari Bali. Sebuah gagasan cerdas untuk memotret keindahan, keriuhan, dan geletak Bali dalam sebuah busana modern, tanpa meninggalkan nuansa dan suasana iklim Bali. (osi)
Sumber: www.balipost.com
» Trend
Minggu, 09 Agustus 2009