Jumat, 02 April 2010

PENERIMAAN TANPA SYARAT

sumber Dewi cantik Via Facebook
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru sajamenyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering...! Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, dan... tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil...!

Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali......

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam... tapi juga memancarkan kasih sayang...!

Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu... Ia menyapa "Good day..!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk
membayar makanan yang akan dipesan.. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin.. setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka..., dan kami bertiga tiba-2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.

Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir... Nona !"

Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli
sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-2 saja saya diserang oleh rasa iba... membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-2 lainnya, yang hampir semuanya...sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya..., dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya...

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. .. saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap.. "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua...."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2... dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya...."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata... "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu
ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian...."

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu....

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka... dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata... "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku..., yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku...! "

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat...... dan saat itu kami benar-2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' .. untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya... mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat
tangan'dengan kami...

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap.. "tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini...., jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami..."

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami...!

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan 'hidayah' bagi saya..., maupun bagi orang-2 yang ada disekitar saya saat itu. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali...!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen
saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca.... para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi... Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya... membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ... "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu..."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya
sebagai mahasiswi. Saya lulus... dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu : "PENERIMAAN TANPA SYARAT".

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara....

MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI

dan bukan mencintai harta-harta benda yang bukan milik kita dengan memanfaatkan sesama !

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan
tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama... yang sedang membutuhkan uluran tangannya... !

Orang bijak mengatakan :
- Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu. .., tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
- Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu... Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu...!
- Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak; Orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak...! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya..!
- Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka,... hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.
- Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni.... Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama
untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

Sumber : Internet Bebas
Menurut ilmu Feng Shui untuk uang dan kemakmuran, menimbun dan menyimpan uang sebanyak-banyaknya akan menghambat aliran uang ke dalam. Sementara memberi secara murah hati sesuai kemampuan, menyediakan ruang untuk kemakmuran yang lebih besar bagi kita.
Mudah sekali jika kita ingin beramal. Bila kita belum bisa beramal, memberi senyum terindah juga merupakan suatu amalan. Menjenguk teman yang sakit juga serupa, begitu juga dengan memberi selamat atau kado ulang tahun kepada seseorang juga merupakan sebuah amal.

Minggu, 07 Maret 2010

Dari Facebook Turun ke Hati

Dear Aime,( jawa post. Senin, 08 Maret 2010

Aime yang baik hati dan tidak sombong. Aku mau minta tolong untuk mencarikan solusi masalahku ini dong. Soalnya sekarang aku lagi pusing banget nih. Oh iya, kenalan sedikit yuk. Namaku Ninis, aku adalah salah seorang pelajar SMP di Sidoarjo.

Oke, langsung ke pokok permasalahan aja ya sekarang. Begini Aime, aku punya kakak kelas. Kami berdua sangat dekat. Hubungan yang kami jalanin kayak kakak adik gitu lah.

Udah lumayan lama aku kenal dia. Awalnya, kami berkenalan lewat situs jejaring sosial, Facebook. Terus berlanjut ke aktivitas chatting. Waktu mengetahui nomor HP-nya, kucoba-coba kirim SMS. Dari situ aku jadi lebih kenal sama dia.

Tiba-tiba dia meminta aku menjadi ceweknya. Aku sendiri bukan orang yang menolak berpacaran. Tapi, yang membuatku sedikit shock, dia juga mengatakan akan jadi pendamping hidup yang setia untuk selamanya.

Denger pernyataan semacam itu aku merasa bingung. Apalagi aku kan masih remaja plus aku sendiri menyadari sifatku yang kekanak-kanakan. Aku belum yakin bisa mengimbangi dia yang kayaknya udah serius banget.

Jujur saja, lama-kelamaan timbul perasaan lain dalam hatiku. Bukan sekadar perasaan seorang adik kepada kakaknya. Mungkin, ini yang dibilang cinta.

Tapi, aku nggak pernah ngakuin perasaanku sendiri. Gimana nih, Aime? Aku nggak mau nyakitin hati orang. Tapi, aku juga takut kalau terlalu terburu-buru menerima dia. Please banget bantuin aku! Makasih banyak ya.

Ninis P. tworoxy_***@rocketmail.com

Hei Ninis yang pasti manis dong ya! He he.

Emang si Facebook ini jejaring sosial multifungsi ya! Selain bisa dipakai menjalin tali silaturahmi sama temen-temen, Facabook bisa dipakai main dengan aneka macam aplikasinya. Eh, rupanya ada fitur baru, sebagai search engine gebetan. He he. Asyik sih kalau bisa punya kakak baru. Jadi, merasa ada yang memperhatikan, melindungi, dan menjaga. Lagi-lagi yang namanya perasaan siapa sih yang tahu. Apalagi, perasaan itu kan bisa berubah kapan saja tanpa terduga. Setuju kan? Terus kalau bingung gimana ya solusinya? Coba nih Aime bantu kasih saran.

Nggak Mudah Percaya

Meski cowok gebetanmu ini sudah terang-terangan menyatakan perasaannya, kamu jangan langsung terbuai. Inget deh sama temen yang sudah lama kenal saja belum tentu dia bisa dipercaya, apalagi sama orang yang baru sebentar kamu kenal. Boleh saja kamu mendengar ucapannya, tapi sebaiknya kamu mengesampingkan dulu urusan hati.

Perlahan tapi Pasti

Waktu yang sangat sebentar nggak akan cukup untuk dipakai menilai baik nggaknya sosok si gebetan itu. So, langkah terbaik adalah memberikan waktu untuk perasaanmu dan dia. Biarkan saja hubungan kalian mengalir sebagai kakak adik. Kalaupun dia beneran serius sama kamu, nanti pasti dia mau bersabar menunggu. Patut dicurigai tuh kalau dia terburu-buru banget pengen jadian sama kamu. Apalagi, mengumbar kata-kata setia selamanya.

Beri Sikap Tegas

Kasus penipuan berkedok kenalan di situs jejaring sosial sudah seabrek jadi bahan berita di media. Nggak pengen kan jadi korban selanjutnya? Kamu kudu tegas sama dia bahwa saat ini kamu belum siap menjalin hubungan serius. Hubungan yang kamu mau ya sebatas teman biasa saja. That's it! (Aime)

Jumat, 01 Januari 2010

Bhagavad-Gita II.30

dehi nityam avadhyo ‘yam
dehe sarvasya bhārata,
tasmāt sarvāni bhūtāni
na tvam śocitum arhasi.

Yang menghuni badan setiap makhluk, semuanya tak akan dapat dibunuh, karena itu janganlah bersedih atas kematian makhluk apapun.

Bhagavad-Gita II.31

svadharmam api cāveksya
na vikampitum arhasi,
dharmyād dhi yuddhāc chreyo’nyat
kşatriyasya na vidyate

Berjuang menegakkan kebenaran dengan menyadari akan kewajiban masing-masing, engkau tak boleh gentar. Bagi mereka yang berjiwa ksatriya tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada berjuang menegakkan kebenaran

Bhagavad-Gita II.32

yadŗcchayā co’papannam
svarga-dvāram apāvŗtam,
sukhinah kşatriyāh pārtha
labhante yuddham īdŗśam.

Berbahagialah pahlawan sejati yang mendapat kesempatan untuk berjuang dalam menegakkan kebenaran, karena pintu kebahagiaan telah terbuka lebar bagi mereka.

Bhagavad-Gita II.34

akirtim cāpi bhūtāni
kathayişyanti te ‘vyayām,
sambhāvitasya cākīrtih
maraņād atiricyate.

Semua orang akan selalu membicarakan nama burukmu (jika meninggalkan kewajiban), dan bagi seorang terhormat (berjiwa ksatriya) yang telah kehilangan kehormatan, lebih buruk daripada kematian.

Bhagavad-Gita II.35

bhayād raņād uparatam
mamsyante tvām mahā-rathāh,
yeşām ca tvam bahu-mato
bhūtvā yāsyasi lāghavam.

Para pahlawan besar (berjiwa besar) akan menganggapmu pengecut karena lari dari perjuangan (dharma), dan mereka yang pernah mengagumimu dengan penuh kehormatan akan merendahkanmu.