Jumat, 07 Agustus 2009

Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan (Budha Kliwon Dungulan)

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan.
Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.


Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

  1. Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
    Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
  2. Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
    Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
  3. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
    Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.

Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.
Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.

Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.
Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.

Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.
Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.
Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.
Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.

Kesimpulan:

  • Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa.
  • Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.
  • Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.
  • Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

Om, sampurna ya nama swaha.
Om, sukham bhawantu.

Selasa, 04 Agustus 2009

Pagerwesi


Setiap Buda Kliwon Sinta, kita (umat Hindu) merayakan rerahinan Pagerwesi. Dari kediaman sekarang (Blitar), saya membayangkan daerah-daerah yang mayoritas penduduknya umat Hindu pasti sudah tampak sibuk mempersiapkan sarana upakara untuk merayakan Pagerwesi. Umat, terutama ibu-ibu sudah tampak menghaturkan sesajen atau banten di merajan atau sanggah masing-masing di pagi hari. Beberapa di antara mereka selanjutnya menuju Pura yang ada di desanya masing-masing atau ke Pura Jagatnatha. Karena varna yang berbeda dari umat, masing-masing menyesuaikan waktunya untuk tangkil ke Pura. Para pemangku memberikan pelayanan dengan sabar yang sejak pagi sudah didatangi pemedek guna melakukan persembahyangan. Di Bali khususnya, di Pura-Pura yang sehari-harinya juga menjadi daerah kunjungan wisata, biasanya pemedek tampak berbaur dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang memasuki areal pura (non-Utama Mandala) diantar oleh guide-nya. Mereka rupanya ingin menyaksikan dari dekat proses persembahyangan di pura tersebut. Nampaknya umat yang sudah terbiasa dengan situasi itu tidak begitu terpengaruh oleh kehadiran bule-bule tersebut yang sedikit menyesuaikan dalam hal busana walaupun “sraba-srebe”.

RENUNGAN

Dalam melaksanakan kewajiban selaku umat pemuja Brahman, pernahkah kita merenungkan: Apa sesungguhnya hakekat perayaan Pagerwesi? Disebutkan bahwa Pagerwesi sebagai hari payogan Sang Hyang Pramesti Guru, Jiwa Utama Brahman sebagai Guru Tertinggi atau gurunya segala guru.

Tentang nama Brahman yang diberikan sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, saya mempunyai pengertian: “Sang” adalah sebutan kehormatan, “Hyang” berarti yang maha, “Pramesti” terdiri dari kata “Parama” yang berarti agung, luhur, tertinggi dan “Isti” berarti permohonan, “Guru” dalam hal ini adalah Guru Swadhyaya yaitu Brahman. Jadi, Sang Hyang Pramesti Guru adalah Jiwa Utama Brahman sebagai Sang Maha Pengabul pada semua permohonan yang luhur.

Perayaan Pagerwesi masih satu rangkaian dengan perayaan Saraswati. Dalam perayaan Saraswati, kita memuja Shakti Brahman sebagai sumber dari segala sumber pengetahuan, dan sumber kebijaksanaan. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, itu tidak akan berarti apa-apa untuk kesempurnaan jiwanya, jika hal itu tidak menuntunnya untuk memuja Brahman yang merupakan pengetahuan murni dirinya. Abdikanlah ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan kepada kita untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi alam semesta sesuai dengan varna yang telah ditentukan pada diri kita masing-masing. Komitmen tersebut mesti mampu menjadi pagar atau benteng (“pura” sejati dalam diri) yang kokoh untuk melindungi diri kita dari segala macam godaan selama mengarungi samudera kehidupan. Dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan, umat diharapkan memiliki wawasan yang luas, sekaligus mampu menghadapi berbagai persoalan hidup.
Pada perayaan Pagerwesi ini, mari kita panjatkan permohonan-permohonan dan kukuhkan komitmen-komitmen yang luhur. Berkomitmen untuk melaksanakan dharma lebih baik lagi dari hari-hari sebelumnya.

“yathadityah samudyan vai tamah sarvvam vyapohati,
evam kalvanamatistam sarvvapapam vyapohati.”

(Sarasamuccaya, sloka16)

Kadi kramaning Sang Hyang Aditya, umijil angilangaken petenging rat, mangkana titikaning wong amulahaken ing dharma, angilangaken sakabehing papa.

(Seperti halnya perilaku matahari yang terbit melenyapkan kegelapan dunia, demikianlah ciri-cirinya pada orang yang melaksanakan dharma, adalah memusnahkan segala macam kenistaan jiwa).

Om dirghayuastu tad astu astu,
Om awighnamastu tad astu astu,
Om subhamastu tad astu astu,
Om sriyam bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu.
Om a no badrah kratawo yantu wiswatah.


Kamis, 23 Juli 2009

Tokoh Lagu Bali




Berikut Nama Tokoh - Tokoh Lagu Bali yang berperan aktif dalam merintis bangkitnya lagu Bali hingga berkembang seperti sekarang :

1. AA Wedasmara - pencipta lagu "Kaden Saja"

2. Alm. AA Made Cakra - pencipta lagu "Bungan Sandat"


AA. Made Cakra aktif dalam lagu Bali sejak era 60 an dan telah meciptakan hits - hits yang telah banyak dikenal oleh masyarakat Bali. Lagu Bungan Sandat adalah salah satu hits beliau yang sangat terkenal sampai sekarang.

Beliau merupakan pimpinan Band Putra Dewata yang merupakan cikal bakal terbentuknya band - band di Bali.

3. Rai Susrama

4. Mulyono

5. Pan Kaciran

Kami berusaha untuk mengangkat profil seluruh tokoh lagu Bali yang pernah ada sejak era kebangkitan lagu Bali. Namun banyak kendala yang kami hadapi diperjalannya, sehingga kami sulit untuk menemukan nara sumber yang jelas tentang data dan alamat tokoh - tokoh lagu Bali ini. Untuk itu, kami mohonkan bantuan kepada para pengunjung situs ini untuk bisa menginformasikan kepada kami jika ada informasi tentang tokoh lagu Bali yang tidak kami muat dalam situs ini.


sumber:www.lagubali.com

Iluh - Iluh


rofile Lagu Hits Iluh - Iluh
Album : Ubud Melancaran
Produksi : Purpa Legacy
Genre Musik : Pop Rock

Lirik Lagu Iluh - Iluh :


ILUH ILUH
Penyanyi : di Ubud n Band
Cipt. : Tu Krisna

Malam minggu melali pedidian
Nyaruang keneh inguh tusing ngelah tunangan
Liu anak tepuk dijalanan
Megelut mesra sekadi rojali lan juleha

Inguh buduh paling maseselan
Menghayal sebilang peteng

Reff :
Iluh iluh ajak je melali
Ke Kintamani ningalin sunrise
Iluh iluh ajak je melali
Ke pasih Kuta ningalin sunset

Paek Galungan tiang pragat pedidian
Liu bajang bajang kat kenehang
Nanging sing nyak metunangan
Liu anak tepuk dijalanan
Megelut mesra sekadi rojali lan juleha

Inguh buduh paling maseselan
Menghayal sebilang peteng

Reff :
Iluh iluh ajak je melali
Ke Kintamani ningalin sunrise
Iluh iluh ajak je melali
Ke pasih Kuta ningalin sunset
Iluh iluh ajak je melali
Ke pasih Sanur ningalin sunrise
Iluh iluh ajak je melali
Ke Uluwatu ningalin sunset

Rabu, 22 Juli 2009

Ulang Tahun


Profile Lagu Hits Ulang Tahun
Album : Ulang Tahun
Produksi : Aneka Record
Genre Musik : Pop

Lirik Lagu Ulang Tahun :


ULANG TAHUN
Penyanyi : De Oka

Selamat ulang tahun
Adi sayangang beli
Ne jani beli teka
Ke tongos adine
Boya kado ne ketengteng beli
Nanging tresna sane suci sujati

Lega liang kenehe
Menyaputin jani
Ningalin ragan adi
Pada girang mecanda
Mogi mogi cendek adi meurip
Mangde enggar skancan pikayun becik

Reff :
Sing kerasa galahe mejalan
Rinapkala lampu lilin mekejang mati
Sing medaya adi maekin jani
Tur sada ngecup pipin tiange

Manusa Panak Manusa


Profile Lagu Hits Manusa Panak Manusa
Album : Suba Kadung Matulis
Produksi : Jayagiri Production
Genre Musik : Rock Alternatif

Lirik Lagu Manusa Panak Manusa :


MANUSA PANAK MANUSA
Penyanyi : Nanoe Biroe
Cipt. : Nanoe Biroe


Enyag tangkah beli ningehin munyin memen adine
Eh gus ape ka alih mai dini sing nerime beduda
Sesek angkihan beli ningalin sebeng bapan adine
Eh gus tiang ngalih mantu naging sing ane care gus

Luung keneh beli kemu
Nyalamin Om Swastyastu
Nangong mantram sing mearti
Ragan beli tusing meaji

Reff :
Beli masih manusa bisa ngeling
Bisa nyakit hati
Beli masih manusa panak manusa
Beli masih ngelah ajin raga

Mirib bapan adi uli pidan salah pergaulan
Minab memen adine fans beratne datuk maringgih
Jaman sube maju presiden RI mepilih langsung
Reformasi sube mejalan rakyat cenik milu meitung

Yening adi mule tresna
Mai jak beli kawin lari
Melaib atas nama cinta
Atas asas kebebasan

Reff :
Beli masih manusa bisa ngeling
Bisa nyakit hati
Beli masih manusa panak manusa
Beli masih ngelah ajin raga

Mule saja beli jelema lacur
Nanging ento tusing dadi tolak ukur
Mule saja penampilan beline lusuh
Nanging ne penting beli sing demen
Ngae rusuh
wo woo woooo

Reff :
Beli masih manusa bisa ngeling
Bisa nyakit hati
Beli masih manusa panak manusa
Beli masih ngelah ajin raga

LIrik Lagu Bali


KESAKSIANG BULAN
Cipt. Soband
Penyanyi : Soband feat Wati

Miik mengalum bunga mawane baang beli
Semanis munyin beli ngajuman tiang
Oh serasa makeber tiang
Keampehang rayuan

Sekadi hujan tresnan ngetisin beli
Mekada mentik bungan tresna ditaman hati
Oh napike jati tresna puniki
Tresna ane Sujati

Reff :
Mejanji kal satya
Selantang tuuh medampingan
De ade keneh ragu
Setulus hati saling nyayangin

Kesaksian bulan
Tulus tresna
Diipian iraga